08 Agustus 2010

Kambing Hitam dan Putih

Suatu hari , Eko seorang mahasiswa peternakan berpapasan dengan seorang gembala
dengan kambingnya, Eko bertanya dengan takjub :
"Pak, boleh nanya nich ?"
"Boleh "
"Kambing - kambing bapak sehat sekali, bapak kasih makan apa ?"
"Yang mana dulu nich ? Yang hitam atau yang putih ?"
"Mmm yang hitam dulu deh........"
"Oh, Kalo yang hitam , dia makannya rumput basah "
"Ooohh.... Kalo yang putih ?"
"Yang Putih juga...."
"Hmmm....kambing-kambing ini, kuat jalan berapa kilo pak ?"
"Yang mana dulu nich ? Yang hitam atau yang putih ?"
"Mmm yang hitam dulu deh........"
"Oh, Kalo yang hitam , 4 Km sehari "
"Ooohh.... Kalo yang putih ?"
"Yang Putih juga...."
Si Eko mulai gondok........
"Kambing ini , menghasilkan banyak bulu pertahunnya ya, pak ?"
"Yang mana dulu nich ? Yang hitam atau yang putih ?"
"( dengan kesalnya ) yang hitam dulu deh...."
"Oh, Kalo yang hitam , banyak ...... 10 Kg/th "
"Kalo yang putih ?"
"Yang Putih juga...."
Si Eko mulai kesal :
"BAPAK INI KENAPA SIH SELALU NGEBEDAIN KAMBING JADI 2,
PADAHAL JAWABANNYA SAMA AJA ????????????"
"Oh, gini dik, soalnya yang hitam itu, punya saya......"
"Oh begitu pak, maafkan saya kalo begitu, habisnya saya emosi.
Kalo yang putih punya siapa, pak ?? "
"Yang putih juga "
"#!!@%$#! :#!!@! @*"; maki si Eko sambil ngeloyor pergi.

Ajalmu Tiba

Seorang yang sedang menjelajah di pedalaman Amazon tiba-tiba saja sudah dikepung sekelompok primitif yang haus darah.

“Oo… Tuhan matilah aku…”, gumamnya.

Tiba-tiba dari langit diatasnya ada kilatan cahaya, dan terdengar suara menggema:

“Tidak anakku…, ajalmu belum tiba. Ambillah batu di dekat kakimu itu dan pukul kepala pemimpin mereka yang tepat berdiri didepanmu itu “.

Si penjelajah itupun mengambil batu dan menyerang pemimpin gerombol itu, dan memukulkan batu itu ke kepala si pemimpin sekuat tenaga… dan si pemimpin itu

mati seketika. Dia berdiri di atas mayat si pemimpin.

Seketika 100 orang primitif itu mengepungnya dengan muka sangat marah karena melihat pemimpinnya terbunuh. Kilatan dari langit itu muncul lagi dengan suara

menggema:

“Sekarang… baru ajalmu tiba anakku…”