28 April 2016

Kisah si Budi

Ada seorang anak yang bernama Budi dia masih duduk di bangku sekolah dasar, nah pada suatu hari ketika pelajaran agama, selesai menerangkan materi si Ibu Guru pun bertanya kepada anak2 muridnya 

Ibu guru : Naaah.. setelah ibu menerangkan materi tadi kalian sudah mengerti khan apa itu Surga dan apa itu Neraka, anak - anak....??
Murid2 : Sudaah buuuu.. (jawab semua murid berbarengan)
Ibu guru : Coba siapa yang mau ke Surga ??? (tanya ibu guru)

dengan spontan semua murid mengangkat tangan, kecuali si Budi...

Ibu guru : Budi koq kamu nggak mau ke Surga? (tanya bu guru)
Budi : Kata papa dan mama saya, kalau sudah pulang sekolah nggak boleh kemana-mana, harus langsung pulang kerumah, bu".

Ibu guru pun tertawa mendengar alasan si budi. 


Esok harinya pada mata pelajaran IPA ibu guru pun mengadakan praktek tentang minuman beralkohol, lalu ibu guru mengambil  2 buah gelas yg satu diisi dengan air putih, dan yg satu lagi diisi dengan minuman beralkohol...
kemudian pada masing2 gelas tersebut dimasukkan cacing tanah..

Ibu guru : Nah coba anak2 kalian perhatikan pada gelas yg berisi air putih cacing masih hidup dan bergerak2, nah sedangkan pada gelas yg berisi alkohol cacing nya sudah lemes dan lalu mati..
nah silahkan kalian buat kesimpulannya pada selembar kertas lalu dikumpul didepan yaaahh...
Murid2 : iya buuu.. (jawab murid2 serempak)

nah ketika ibu guru memeriksa lembaran jawaban murid2, rata2 jawaban kesimpulannya semua hampir sama yaitu bahwa "Minuman beralkohol tidak baik bagi kesehatan" naaah ketika ibu guru memeriksa jawaban si Budi, ibu guru pun kaget 

ternyata kesimpulan dari si Budi "Kalau kita minum minuman beralkohol maka kita akan terbebas dari cacingan".


19 April 2016

Siapa yg Idiot?

Adakah orang idiot di ruangan ini?!
pada saat pelajaran di sekolah seorang guru bertanya kepada murid-muridnya.  "
Jika ada org idiot dan merasa dirinya idiot di dalam ruangan ini, maka silahkan berdiri" kata guru matematika yg killer.

Setelah terdiam beberapa saat, salah satu murid bangkit.

"Kenapa kamu menganggap diri kamu idiot?" Tanya guru dengan mencemooh.

"Sebenarnya aku tidak idiot," kata murid tersebut", tapi saya kasihan melihat ibu guru berdiri disana sendirian."

Marga Suku Batak

Bukan bermaksud menyebar masalah SARA, tapi sekedar ingin berbagi. Ternyata nama-nama saudara kita dari suku Batak itu ada ceritanya....


Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.

Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat. Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan Sembiring orang.

Naibaho ikan gurame yang dibakar Sitanggang dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar. Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa diantaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar "Wow, Siregar sekali hawanya" katanya, berbeda dengan kampungnya yang Panggabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya. Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun.

Tampak di seberang, lautan dan ikan Lumban-lumban. Terbawa suasana,mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas kolam Siringo-ringo yang akan di-Hutauruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja,yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiurma melambai kayak di pantai.

Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar. "Sinaga!" teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan. Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar. Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk melakukan pengobatan.

Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. Tabib bilang, bibirnya harus di-Panjaitan. "Hmm, biayanya Pangaribuan" kata sang tabib setelah memeriksa sejenak.

"Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?" tawar si Butet.
"Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil".
"Jangan begitulah. Masa' tidak Siahaan melihat bibir saya Sihombing begini? Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan ?"
"Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja" sahut sang mantri agak kesal.
"Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit tidak apa-apalah".

Malamnya, ketika sedang asik-asiknya berlatih sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di semak-semak dan tiba-tiba berbunyi "Poltak!" keras sekali.

"Ada Situmorang?" tanya Butet sambil memegang tongkat seperti stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan.

Terdengar suara pelan, "Situmeang". "Sial, cuma kucing..." desahnya lega. Padahal dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen. Selesai berlatih, Butet-pun istirahat. Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat. Keesokan harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: "Harahap tenang! Ada ujian.

"Wah telat, emang udah jam Silaban sih". Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil menyanyi-nyanyi. Di-Tigor-lah dia sama gurunya "Butet, kau jangan ribut!, bikin kacau konsentrasi temanmu!"

Butet, dengan tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunya, "Nggak Pakpahan guru, sekali-sekali...!".

Akhirnya, luluslah Butet dan menjadi orang yang disegani karena mengikuti wejangan guru Pandapotan silatnya untuk selalu, "Simanjuntak gentar, Sinambela yang Bonar!"

16 April 2016

Maling

Ada 2 orang MALING yg sedang menjalani Sidang :
Maling 1 mencuri AYAM Pak RT, Vonis 2 tahun Penjara.
Maling 2 membawa lari anak Pak RT, vonis 2 bulan penjara.

Maling 1 protes : Ini tidak adil, masa aku cuma mencuri ayam di hukum 2 tahun, sedangkan Maling 2 yg membawa lari anak RT cuma di hukum
2 bulan penjara saja.

Hakim : kamu tahu ga kenapa Maling 2 dihukum 2 bulan? Itu karena dia mau bertanggung jawab, dan mau menikahi anak Pak RT yg dibawanya lari... Apa kamu mau bertanggung jawab menikahi ayam...!?"

Maling 1: *nelen ludah* 

12 April 2016

Sang Pujangga

Seorang pujanga terkenal krn syair2 puisinya pulang dari merantau.
Di sebuah jembatan sungai yg deras, dia melihat seorang cewek sedang terisak menangis dipinggir jembatan.
Sang pujangga mulai melancarkan jurus syair mautnya : "duhai wanita idaman, sedang apakah gerangan dinda berdiri disana?.
Cewek : Jangan cegah saya!. Saya mau bunuh diri ! #ketus#
Pujangga: "Baiklah, kanda tidak akan mencegah, namun sudilah berikan kecupan dinda yg terakhir sebagai kenangan".
Tanpa ragu sang cewek menghampiri Pujangga, dan memberikan kecupan yg sangat mesra dan bergairah dibibirnya, dan pujangga pun membalas melumat bibir dan lidah si gadis yg mulai mendesah2 ouuuugh membangkitkan birahi, setelah sekian lama mereka berciuman sang pujangga pun bertanya kembali
Pujangga: "Dinda, sungguh lembut nan nikmatnya kecupanmu. Satu hal yang kanda mau tanya, kenapa dinda mau bunuh diri?"
Sambil terisak2 dalam tangis si cewek menjawab..
"Hidup saya sudah tidak berarti Bang. Kedua orang tua saya melarang saya berdandan seperti wanita..hiks hiks"
Pujangga: Cuih. Cuih.. Kampreet..najis… Banci sialaaan lu,,,!!!

Antrian Permen

Polisi merazia beberapa PSK serta menggiring mereka ke kantor polisi untuk diinterogasi satu per satu.

Karena sangat banyaknya psk yang terjaring, antrian hingga keluar pagar kantor polisi.
Tidak lama lantas, lewatlah seorang nenek yang akan beli minyak tanah.
Dikarenakan lihat keramaian, si nenek ajukan pertanyaan pada psk yang berdiri pada antrian paling belakang.

Cu, lagi antri apaan?

Dikarenakan malu berterus terang, si psk menjawab sekenanya, "lagi ngantri permen, nek."
Si PSK kaget, ternyata si nenek ikut antri. "Nenek ngapain?"

"Nenek juga akan mau permen, cu."
singkat cerita sampailah giliran si nenek untuk diinterogasi.

Pak polisi lihat si nenek yang telah renta itu ikut didalam antrian psk.
Dengan amat hati-hati si polisi ajukan pertanyaan, "apa nenek masih sanggup?"

Si nenek menjawab dengan nada bergetar dikarenakan umur yang telah sepuh, kaaaloo hanya isep-isep sih nenek tetap oke, cu…. !

08 April 2016

Mamaku Seorang Pelacur

Dalam pelajaran IPS di kelas 3 SD, bu Guru mengenalkan jenis-jenis pekerjaan orang. Kemudian setiap anak diminta menyebutkan pekerjaan ibunya masing-masing.

Suzy : "Mamaku guru SMA."
Budi : "Mamaku punya toko."
Joni : "Mamaku seorang pelacur..."

Jawaban Joni membuat Bu Guru kaget gak karuan. Langsung saja Joni disuruh menghadap Bapak Kepala Sekolah. Sekitar lima belas menit kemudian Joni kembali ke kelas, sambil tersenyum-senyum sambil menunjukkan apel di tangannya.

Bu Guru: "Apa yang dikatakan Bapak Kepala Sekolah padamu?"
Joni : "Setiap pekerjaan adalah mulia dan punya sumbangan pada ekonomi. Kemudian beliau minta nomor HP mama, setelah itu saya dikasih apel."

Bu Guru: "???"

Mobil Dinas

Opik: "Mak, katanye babeh naek pangkat ame dapet mobil dinas dari kantornye yak?"
Emak: "Iye Pik, emang nape?"
Topik: "Koq mobilnya kagak pernah dibawa pulang sih mak? Bilang dong mak ame babeh supaya ntu mobil dibawa pulang, pan lumayan sekali-sekali Opik bisa bawa ke kampus ama Opik pake ke rumenya si Maya kalo malem mingguan..."

Emak: "Emak sih ame babeh sebenernya kepengen banget itu mobil dibawa pulang, tapi kagak enak ame tetangge, Pik..."
Topik: "Lhaaaa emang napa, Mak, pake acara kagak enak segala ama tetangge? Mau-maunya kite doong..."

Si Emak pun nyampein ke babeh.

Besoknya, pulang kuliah, Opik teriak dari luar, "Mak, itu napa mobil tinja parkir depan rumeh kite?"
Emak: "Nah, kate elo, babeh harus bawa mobil dinasnya ke rumah. Noh, Mak udeh minta ijin ke babeh elu, kalau elu mau pakai buat ngapelin si Maya, kata babe elu hati-hati kalau bawa itu mobil!"