27 Mei 2011

Dua Manusia SUPER...

Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu
dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus,
kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan
penyeberangan SetiaBudi, dua sosok kecil berumur kira
kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah
kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan
siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan,
dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya
mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang
dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan
"Terima kasih Oom !" Saya masih tak menyadari
kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum
seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas
jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap
berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki
laki
itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya,
lagi lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima
kasih
dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat
stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut
jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya
melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu,
duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik
transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama
dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli
seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat
berkembang seolah memecah mendung yang sedang
menggayut langit Jakarta.

"Terima kasih ya mbak ... semuanya dua ribu lima ratus
rupiah!" tukas mereka, tak lama si wanita merogoh
tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu
rupiah.
"Maaf, nggak ada kembaliannya ... ada uang pas nggak
mbak ?" mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si
wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang
bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan ?"
suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang
seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku
celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food
court sebesar empat ribu rupiah.
"Nggak punya!", tukas saya. Lalu tak lama si wanita
berkata
"Ambil saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan
dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan
saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan
tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih
tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk
memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita
kaget, setengah berteriak ia bilang
"Sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !",
namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.
"Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat
sini lagi saya kembalikan !"

Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil
pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu
digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya.
Mereka menghampiri saya dan berujar
"Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar
uang ketukang ojek !"
"Eeh ... nggak usah ... nggak usah ... biar aja ...
nih !"
saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi
terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang
cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya
hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak
yang satunya,
"Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ... sebentar."
"Nggak apa apa, itu buat kalian" lanjut saya.
"Jangan ... jangan oom, itu uang oom sama mbak yang
tadi juga" anak itu bersikeras.
"Sudah ... saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas
!", saya berusaha membargain, namun ia menghalangi
saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak
memanggil temannya untuk segera cepat.

Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya
dan berlari kearah saya.
"Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..".
Ia memberi saya delapan pack tissue.
"Buat apa ?", saya terbengong
"Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai
tissue aja dulu".
Walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada
rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup
rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya
mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan
genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil
tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat
ribu rupiah.

"Terima kasih Om !"..mereka kembali keujung jembatan
sambil sayup sayup terdengar percakapan,
"Duit mbak tadi gimana ..?" suara kecil yang lain
menyahut,
"Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita
kasihin .......".

Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak
dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ......
Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya
trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan
kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan
hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta
dengan berdagang tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki
kemuliaan di umur mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar