09 Januari 2011

Jejak Sepatu di karpet

Sebuah kisah nyata...

Ada seorang ibu rumah tangga yang

memiliki 4 anak laki-laki.

Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan

rumah dapat ditanganinya dengan baik.

Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami

serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak

suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan

marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak

sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan

berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki

di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog

bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.

Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian,

Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu :

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan

saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang

bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa

jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"

Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah,

mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang

dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada

seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak,

tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.

Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika

muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung

menghilang, napasnya mengandung isak.

Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas

membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan

anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu &

kotoran disana , artinya suami dan anak-anak ibu ada

di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan

kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman

dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya

"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah

buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut

yang tepat, maka hal yang tampak negatif

dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal

karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu

disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah

seorang psikolog terkenal yang mengilhami

Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP

(Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang

dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana

kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga

sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif,

salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya

makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan

dengan orang lain

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton

TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di

bar, kafe, atau di tempat mesum.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal,

karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu

artinya saya bekerja dan digaji tinggi

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus

saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami

dikelilingi banyak teman

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu

artinya saya cukup makan

7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari,

karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah,

karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat

9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya,

karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar